“Hidup bukan berarti bagaimana orang mengalaminya, namun bagaimana orang itu mengingat ulang kehidupannya, lalu menuliskan kembali dalam sebuah cerita,” ungkap Ga-
briel Garcia Màrquez pada buku biografnya berjudul “Living to tell the Tale”.
Semoga Ungkapan Marquez di atas memperlicin jalan bagi siapa saja yang sedang menekuni sebuah kegiatan menulis kisah tentang dirinya. Tak terkecuali,,,^_^
*Oleh: Azzura Al-Bimawi
“Nuri!” panggil Alif. Suaranya agak pelan.
“Iya.”
“Boleh saya menanyakan sesuatu!” pintanya menghiba.
Nuri menatap ruas jalan yang dilewati, perasaannya agak tidak tenang, dan tidak karuan. Nuri diam seribu bahasa, pertanyaan dibenaknya seakan menjajali otaknya untuk dipecahkan satu persatu.
“Nuri...!”
“Iya, Alif.”
Nuri adalah mahasiswi S1 yang baru menginjakkan kaki di bangku kuliah. Mendengar panggilan temannya itu tak juga nuri merespon. Ia lebih menikmati pemandangan yang dilewati, sesekali sambil membalas sms yang masuk ke inboxnya. Alif adalah teman sekelas Nuri yang sekarang dekat sama Nuri.
Alif masih konsentrasi dengan motornya, selang beberapa saat tiba-tiba motor berhenti.
“Kita berhenti sebentar. Saya mau menanyakan sesuatu.”
“Menanyakan apa?” tanya nuri. Masih dalam kebingungan.
“Nuri kenal tidak dengan ukhti Dila?” tanyanya.
“Iya, Nuri kenal.” ujarnya.
“Bagaimana menurut nuri penampilan ukhti dila?” tanyanya.
“Anggun, Nuri sangat senang melihatnya.” sahutnya.
“Kenapa nuri masih pakai celana?” tanyanya lagi.
“Viza sama iva juga pakai celana, lagian kita kan mau kepantai, masa’ harus pakai rok, ribet.” Jawabnya sewot.
“Iya, saya tahu, saya cuma nanya sama nuri, apa tidak boleh?” tanyanya lagi
“O iya, Viza sama iva sudah nyampe, kita susul mereka sekarang.” Bujuknya
Perjalanan ke pantai pun dilanjutkan, Nuri dengan perasaan yang campur aduk masih bertanya-tanya apa yang dimaksud Alif tadi.
“Sungguh, amanah yang saya emban sekarang amatlah besar, jika di ibaratkan saya seperti Fahri yang di Ayat-Ayat Cinta, saya mempunyai dua istri, Organisasi saya yang satu adalah Aisyah dimana untuk menyapa lain jenis dilarang apalagi sampai goncengan seperti sekarang ini, sedangkan yang satunya adalah Maryam yang masih memberikan kelonggaran untuk itu semua.” Paparnya panjang lebar.
Nuri terdiam membisu, dalam hatinya membenarkan paparan alif tadi, seakan gunung himalaya jatuh menimpanya, perlahan tapi pasti hingga Nuri pun seakan tertimbun.
“Nuri.....”
“Iya.....”
“Kenapa diam?” tanyanya.
“Turunkan Nuri disini, Nuri bisa pulang pakai cidomo.” Pintanya.
“Tidak boleh seperti itu, saya yang bertanggung jawab atas keselamatan nuri, karena saya yang menjemput Nuri.” Ucapnya dengan tegas
“Kalau begitu, kita pulang saja.” Bujuknya
“Baiklah.” Jawabnya
Sepanjang perjalanan pulang, ada perasaan sedih yang memuncak dalam hati Nuri, kenapa dia begitu mudah melanggar peraturan yang sudah jelas asal-usulnya, kenapa dia begitu mudah memaknai semua tingkahnya tanpa memperhatikan resikonya. Kata-kata Alif tadi menyadarkan Nuri dari tidur panjangnya, Nuri terdiam, dalam hatinya berkata apakah ini awal dari datangnya hidayah?”. Apakah lewat tutur katanya Alif?”. Nuri merasa selama ini sangat berdosa, ketika dia sudah mendapatkan ilmunya, tapi dia tidak mengamalkannya.
“Sudah sampai kost.” Alif menyadarkan Nuri dari lamunan panjangnya.
“Nuri....”
“Iya...., eh sudah sampai kost ternyata.” Jawabnya.
“Istrahat, jangan terlalu begadang, kalau mau minta tolong tinggal sms saya.” Pesan Alif.
“Oke, Bos.” Sahut Nuri.
Ucapan Alif tadi tidak sedikit memberi pengaruh positif dalam pemikirannya Nuri, Alif telah membuka pemikiran Nuri tentang arti keislaman yang sebenarnya, sudah saatnya Nuri berubah ke arah yang lebih baik, tegasnya dalam hati. Bunyi sms menyadarkan Nuri dari kebekuan jiwanya dalam memikirkan perubahan akan dirinya. Sesaat kemudian Nuri membuka sms tersebut, ternyata sms itu dari Alif.
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
“Sebagai makhluk moral, manusia selalu dihadapkan pada piliham untuk berbuat baik dan buruk. Kecenderungan baik dan buruk itu terus bergulat dalam diri manusia sepanjang waktu. Namun perlu disadari bahwa kehormatan dan kemuliaan manusia justru terletak pada kemampuannya mengorganisasi dan memanage kecenderungan-kecenderungan yang bersifat antagonistik itu secara baik dan proporsional dalam memilih jalan hidupnya”.
“Subhanallah, Alif”. Decaknya dalam hati.
Sambil membuka laptopnya, Nuri memutar nasyid yang berjudul “Mengemis Kasih” dan ketika tiba pada lirik yang berbunyi:
Selangkah ku datang pada-Mu.
Seribu langkah Kau datang pada ku.
“Selama kita berusaha mendekat kepada-Nya, insya Allah Dia juga akan mendekat pada kita, seribu kali. Sambil mengepakkan tangannya. Semangat untuk Perubahan....!!!!”
Wa’alaikumussalam Wr Wb
“Namun, Allah SWT lebih lanjut mengingatkan, tidak semua jalan terhampar tersebut dapat mengantarkan manusia kepada nilai-nilai positif dan kemaslahatan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat nanti. Ada banyak jalan yang di mata manusia tampak akan membawa pada kebahagiaan sejati, tapi di mata Allah malah sebaliknya. Atau pula, jalan yang oleh manusia dianggap hina-dina, namun di mata Allah justru itulah jalan terbaik yang Allah SWT hamparkan.” Nuri membalas sms Alif.
***
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar