MENCINTAI memang indah, mencintai adalah kewajaran. Tak bisa di sangkal, bahwa tidak ada seseorang pun yang steril dari namanya cinta begitu juga dengan diri ini. Tapi bagaimana jika cinta yang kita miliki tak kunjung menyatu ? apakah harus meratap dalam perih ? apakah harus mengeluh dalam derita ? apakah harus meronta dalam jeritan ? mengeja nama yang tak kunjung menghampiri untuk mengkhitbah. Menguraikan keluh kesah dengan kuas harapan dalam buku harian yang selama ini membisu menatap diri ini. Tak ada solusi yang ditawarkan, yang ada dia pun ikut terlena akan rasa yang ku goreskan.
Sebagai kaum hawa, aku harus dapat menerima kenyataan. Menerima rangkaian logis untuk senantiasa meghargai diri. Bahwa kaum hawa hanya menunggu dan menerima jemputan sang pangeran. Tak ayal, rasa ini menghampiri perlahan dan pasti. Dan tak bisa dipungkiri rasa ini pun seakan menjalar dalam diri, mungkin ini yang biasa dibilang sama orang, rasa yang tak biasa tapi luar biasa memadati relung hati. Apakah ini yang dinamakan cinta? Entahlah, akupun tidak terlalu memaknainya.
Tapi, kian lama rasa ini semakin kuat, sehingga acap kali muncul dalam benakku, apakah dia jodohku ? terlalu banyak tawaran yang datang menghampiri, bukanlah karena diri ini egois tidak menerima tawaran ikhwan yang ingin mengkhitbah. Tapi, mungkin dengan satu alasan klise diri ini menolaknya “Aku tidak menyukainya“. Kembali memutar ulang kisah yang sempat terekam dalam memori otak, kisah yang mungkin bisa dibilang selalu membayang-bayangi tiap hentakan langkah saat ini. Semester 2 duduk dibangku kuliahan aku merasakan ada perhatian lebih dari seorang ikhwan, ikhwan yang sangat aktif dalam kegiatan kampus, ikhwan yang sangat tawaddhu dalam menjalankan syari’at islam. Tapi, tidak ada respon dari diri aku sendiri, karena aku menganggap semuanya semu, belum saatnya aku memaknai semua rasa yang menghampiri. Dan akupun berhasil menghindar dari sang ikhwan.
“Aku hanyalah seorang makhluk hawa”, itulah kata yang bisa aku ucapkan, begitu juga dengan mereka yang merasakannya. Ingin rasanya memanggil-manggil nama si ikhwan itu agar dia menoleh ke aku dan menyadarkan ke dalam dirinya bahwa aku pun mulai kagum dengan dirinya. Tapi hati ini tak mampu, lidah ini pun terasa kelu. Justru yang datang malah perasaan malu yang senantiasa hilir mudik tak mau berhenti. “Aku sayang dia, dan aku ingin dia tahu perasaan ini “, seperti apa yang dia rasakan dulu, itulah kata-kata yang selalu terbawa mimpi oleh kebanyakan akhwat sekarang ini begitu juga dengan aku. Kata-kata yang hanya ada didasar hati tetapi tidak berani diungkapkan. Tak berani dinyatakan, cuma dipendam dalam hati. Rasa ini sangat kuat tertancap dan mengakar dalam hati, apakah salah jika diri ini menjatuhkan pilihan kepadanya? Dia yang selama ini hadir dan mewarnai alur kehidupan ini?
Perkara jodoh tak ada yang mengetahui, karena jodoh itu ghaib dan sudah tercatat di lauhul mahfuz.
Jodoh???
Tak ada lakon lain yang harus diperankan untuk menunggu kedatangannya selain bertaqarrub kepada Allah. Mendekatkan diri kepada Sang pembolak-balikkan hati. Di tangan-Nyalah segala kekuasaan itu, perbanyak berdzikir, tilawah, shalat malam, disaat malam gelap gulita membekap, diantara sujud panjangku pada Rabb, diantara harap dan do’aku kepada Allah dengan kedatangan pangeran yang akan menjemputku. Aku hanya akan menyampaikan kepada Allah dalam shalat malam yang aku dirikan. Berderai air mata tercurah, harapan yang begitu besar tertambat, hanya kepada Allah sang penjawab do‘a. Sekali lagi, keresahan dan kegelisahan hatiku karena menunggu sang kekasih hati belahan jantung yang belum kunjung datang. Senantiasa bersabar karena berharap yang terbaik dari-Nya. Tak pernah lelah untuk tetap berada di jalan syari’at. Allah pasti memberi skenario terbaik-Nya untuk ku.
INTINYA, JANGAN sampai aku mengubah pandanganku kepada Sang Pemilik Cinta. DIA-lah yang membolak-balikkan hati manusia. aku adalah muslimah sejati, bukan generasi islam yg mudah putus asa. Harapan yang aku miliki akan selalu baru dan terbarui oleh jiwa yang aku miliki. Harapan aku kepada Allah adalah bukan harapan yang main-main bukan pula senda gurau. Aku boleh saja berharap kepada orang-orang yang aku andalkan, tapi harapan kepada Allah tidak boleh pupus begitu saja, justru harus terus dipupuk. Suatu saat, doaku akan terjawab, dan belahan hatiku akan datang kepadaku sambil berkata,” Yaa ukhti, maukah engkau menikah denganku?”. Nah, pada saat itu aku akan tahu betapa Maha Besarnya Allah karena telah mengirimkan padaku “dia“ seorang Mujahid tangguh yang akan menyempurnakan separuh agamaku dan memenuhi sunnah rasul-Nya. Aamiin..Allahumma aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar