Muhasabah...^^

#
Mengobati Jiwa dengan Muhasabah #
Ketika jiwa ammarah bis-su’ menguasai kalbu, berarti
kalbu dalam bahaya yang sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, sangat
diperlukan upaya pengobatannya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa
pengobatannya dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara muhasabah dan
mukhalafah. Mukhalafah artinya menentang jiwa al-ammarah, tidak menuruti kemauannya. Adapun muhasabah
artinya senantiasa mengintrospeksi diri.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Kehancuran kalbu adalah dengan tidak melakukan
muhasabah dan memperturutkan kemauannya.”
Dari sini, kita mengetahui betapa pentingnya peran
muhasabah dalam mengobati jiwa. Tak heran apabila kita dapati para pendahulu
kita sangat memperhatikan dan menganjurkannya.
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan,
“Bermuhasabahlah kalian pada diri kalian sebelum
amal kalian dihisab, timbanglah amal diri kalian sebelum kalian ditimbang.
Sesungguhnya hal itu lebih ringan bagi kalian besok di akhirat dengan kalian
hisab diri kalian pada hari ini….” (Ighatsatul Lahafan)
Abu Musa mengatakan,
“Bermuhasabahlah pada dirimu dalam keadaan lapang,
sebelum hisab di saat yang susah.” (Ghidza’ul Albab, 2/350)
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Engkau
tidak akan menjumpai seorang mukmin melainkan dia akan mengintrospeksi dirinya,
‘Wahai jiwaku, apa yang hendak kau lakukan?’ ‘Wahai jiwaku, apa yang hendak
engkau makan, apa yang hendak engkau minum (haram atau halal –pen.)?’ Sementara
itu, seorang pendosa akan berlalu saja tanpa mengintrospeksi dirinya.
Beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya seorang hamba
tetap dalam keadaan baik selama masih ada penasihat dari jiwanya dan muhasabah
selalu menjadi pikirannya.”
Maimun bin Mihran rahimahullah mengatakan,
“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia menghisab dirinya melebihi
seorang pengusaha mengoreksi teman serikat usahanya. Oleh karena itu,
dikatakan, ‘Jiwa itu bagaikan teman serikat kerja yang pengkhianat. Kalau
engkau tidak benar-benar mengawasinya, dia akan membawa pergi hartamu’.”
( Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar